03 Oktober 2007

my writing

TWO GROUPS OF STUDENT

Student, basically, is divided into two big groups. The first group is extrovert student. Extrovert student is the student who has thoughts or ideas that keep going forward. There are some personalities of extrovert student. An extrovert student usually is an active student. In the class activities, he/she always takes part or participates in the subject that is given by his/her teacher. He/she is also optimistic. In facing his/her life, he/she always thinks that what he/she is going to do, it will get the success. An extrovert student also wants to find a new thing in his/her life. He/she likes a challenge. He/she never satisfies with his/her activities that have done; therefore, he/she likes something new in his/her life. In addition, he/she is brave in taking risks. Like on the previous sentence that an extrovert student likes to find something new that means, he/she is brave in taking risks, because something new is full of risks moreover he/she never does it before. The second group is introvert student. Introvert student is a student who has thoughts or ideas, but these thoughts or these ideas are just only for him/her. Likewise extrovert student, an introvert student also has several personalities. An introvert student usually is passive in the class activities. He/she always keeps silent and just pays attention to the teacher explanation without asking anymore. Other introvert student personality is less interaction. He/she always tries to keep his/herself with the others. If there is a problem, he/she likes to keep it than to share it with the others. An introvert student is also pessimistic. He/she usually has less self confident, so when there is an activity, he/she always hesitates with his/her activity that his/her activity will get success. In addition, he/she does something in carefully. To finish an activity, he/she always needs a long time, because he/she knows that what he/she will do must be in perfect one. Therefore, a lot of people think that an introvert student is a “slow” person in doing something. Indeed, the two groups of student are extrovert and introvert student.


my writing

TWO GROUPS OF STUDENT

Student, basically, is divided into two big groups. The first group is extrovert student. Extrovert student is the student who has thoughts or ideas that keep going forward. There are some personalities of extrovert student. An extrovert student usually is an active student. In the class activities, he/she always takes part or participates in the subject that is given by his/her teacher. He/she is also optimistic. In facing his/her life, he/she always thinks that what he/she is going to do, it will get the success. An extrovert student also wants to find a new thing in his/her life. He/she likes a challenge. He/she never satisfies with his/her activities that have done; therefore, he/she likes something new in his/her life. In addition, he/she is brave in taking risks. Like on the previous sentence that an extrovert student likes to find something new that means, he/she is brave in taking risks, because something new is full of risks moreover he/she never does it before. The second group is introvert student. Introvert student is a student who has thoughts or ideas, but these thoughts or these ideas are just only for him/her. Likewise extrovert student, an introvert student also has several personalities. An introvert student usually is passive in the class activities. He/she always keeps silent and just pays attention to the teacher explanation without asking anymore. Other introvert student personality is less interaction. He/she always tries to keep his/herself with the others. If there is a problem, he/she likes to keep it than to share it with the others. An introvert student is also pessimistic. He/she usually has less self confident, so when there is an activity, he/she always hesitates with his/her activity that his/her activity will get success. In addition, he/she does something in carefully. To finish an activity, he/she always needs a long time, because he/she knows that what he/she will do must be in perfect one. Therefore, a lot of people think that an introvert student is a “slow” person in doing something. Indeed, the two groups of student are extrovert and introvert student.

Hari ini kita berpikir

SADAR, TAK SADAR, ATAU SETENGAH SADAR

Apakah kalian semua mengerti dengan apa yang sudah saya berikan…………?”. Begitulah sekiranya kalimat terakhir yang sering kita dengarkan dari para guru atau dosen kita dalam memberikan materi atau perkuliahan, dan sering kali hal tersebut kita terima begitu saja tanpa kita sadari apakah hal tersebut benar atau tidak. Pokoknya, apa yang sudah diberikan oleh para guru maupun dosen kita,itu adalah sebuah kebenaran, dan hal ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah yang sesungguhnya telah diberikan oleh para guru dan dosen kita benar-benar BENAR atau justru sebaliknya. Atau fenomena lain yang terkait dengan kurikulum perkuliahan kita, sudahkah kurikulum kita memiliki kesesuaian dengan apa yang hari ini kita (baca: mahasiswa) butuhkan? Apakah kurikulum mata kuliah yang satu sudah mendukung mata kuliah yang lain? Atau fenomena-fenomena pendidikan yang lainnya yang hingga hari ini tiada ujung penyelesaiannya. Dibutuhkan analisa yang panjang dan mendalam terkait dengan hal tersebut, dan kesadaran merupakan kuncinya. Apakah hari ini kita yang sadar telah terbangun motivasinya untuk bergerak merubah fenomena tersebut atau justru sebaliknya, tau tapi pura-pura tidak tau.

Kesadaran sebenarnya berawal dari sebuah kebutuhan dan kemudian muncul sebuah kemauan dan diwujudkan melalui aktualisasi diri yang mana aktualisasi tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Segaimana diungkapkan oleh Freud, kesadaran itu bukan hanya abstraksi hipotetik tetapi kenyataan empiric. Untuk mewujudkannya lewat aktualisasi diri yang merupakan tingkat kebutuhan tertinggi dari suatu hirarki kebutuhan (Maslow). Dalam teori kesadaran lainnya, Carl Gustav Jung mengatakan bahwa dalam kepribadian manusia itu terdiri dari dua alam, alam sadar dan alam tak sadar. Dalam alam sadar ini, berfungsi untuk mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan/dunia luar. Sementara pada alam tak sadar mempunyai peranan untuk mengadakan penyesuaian terhadap dunia dalam, yaitu dunia batin. Pada dasarnya manusia memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu fikiran, perasaan, pendirian, dan intuisi. Akan tetapi, biasanya hanya satu saja yang kemudian paling berkembang atau dominant. Fungsi yang dominant itu merupakan fungsi superior, dan menentukan tipe orangnya, apakah tipe pemikir, perasa, pendriaan, atau tipe intuitif. Begitu pula dengan keberadaan kita sebagai manusia yang “sadar”, manakah kemudian dari keempat fungsi jiwa kita yang paling dominant?

Berbicara persoalan pendidikan yang sudah dikemukakan di depan tadi, tentu saja kita semua akan berpikir dan kemudian kita akan sadar kalau kemudian banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita hari ini. Seperti yang sudah disinggung di depan tadi, bahwa masih begitu banyak fenomena, salah satunya tentang “pendoktrinan” akan materi-materi (teori) pembelajaran yang kita pikir bersama belum tentu kebenarannya. Karena kalau kita telusuri, materi-materi tersebut dari tahun ke tahun tidak ada perubahan, padahal ini (materi atau teori) merupakan hasil dari pemikiran manusia yang mana dari detik ke detik mengalami perkembangan dan perubahan. Kita “dipaksa” untuk menerimanya tanpa diberi kesempatan untuk mencoba mengkritisinya. Dan hasilnya.....ya seperti kita-kita ini. Begitu pula dengan “ketidakserasian” kurikulum yang sudah disinggung di depan. Hari ini kita memang “dipaksa dan dicekoki” dengan bermacam-macam ketidakbenaran dalam pendidikan kita. Sadarkah kita kemudian dengan apa yang telah terjadi dengan pendidikan yang ada di sekitar kita hari ini?? Atau kemudian kita sadar tapi kesadaran kita hanya berakhir pada “kemauan” saja dan tidak dilanjutkan pada pengaktualisasian diri?? Percuma......kata yang sekiranya tepat kita terima apabila hari ini kita sadar tapi hanya berakhir pada kemauan tanpa bergerak sama sekali. Masih banyak hal yang kemudian harus kita pikirkan dan kemudian kita perjuangkan untuk merubahnya. Dunia pendidikan kita hari ini masih perlu pembaharuan yang mana nantinya akan membawa pendidikan kita pada tataran terbaiknya. Kita yang sudah sadar, wajib untuk tidak berpangkutangan saja, melihatnya, dan hanya menganalisanya. Paling tidak keberanian dari kita yang sadar akan merubah pendidikan kita menuju ke yang lebih baik.

Pemikiran-pemikiran insan cita

Ketika pacaran jadi trend pemuda-pemudi kita hari ini, bagaimana Islam memberikan solusinya???

Masa remaja, biasa disebut dengan masa transisi, adalah masa di mana banyak sekali dijumpai perubahan-perubahan pada diri seseorang. Mulai mengenal dirinya sendiri, mengenal lingkungannya, bahkan sampai dengan mengenal orang lain. Perubahan yang tidak didasari oleh kesadaran tinggi dan pengetahuan yang cukup bagi seseorang akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Remaja yang identik dengan “kenakalan”nya, sering kali kurang paham, bahkan mereka merasa dirinya adalah yang ter………….diantara yang lainnya. Di sinilah, di masa-masa remaja, seseorang akan mulai menghadapi berbagai persoalan hidup. Pacaran adalah salah satu persoalan yang hari ini banyak dihadapi oleh remaja-remaja kita.

Pacaran, atau lebih dikenal dengan istilah dating, bahasa gaulnya “mbojo”, merupakan fenomena yang lazim kita temui akhir-akhir ini. Mulai dari tingkatan yang terendah sampai dengan pada strata yang tertinggi, kita menemukan fenomena ini. Bayangkan, anak SDpun sudah mengenal istilah pacaran. Pacaran adalah hal yang wajar yang terjadi pada sepasang muda-mudi kita hari ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa ini adalah masa di mana mereka saling menjajaki, memahami dan saling mengerti terhadap pasangannya. Atau lebih populernya disebut sebagai masa dimana mereka saling tepo seliro sebelum mereka menjalani kehidupan yang lebih tinggi, pernikahan.

Dalam konsep Islam tidak terdapat yang namanya istilah berpacaran, yang ada adalah “ta’aruf” atau orang awam menyebutnya kenalan. Ketika Islam dihadapkan dengan fenomena remaja dan pemuda-pemudi kita hari ini, Islam memberika solusi berupa pernikahan. Dalam sisi Islam ini sangat baik sekali diterapkan, namun apabila dilihat dari sisi lain, bagaimana kemudian pernikahan menjadi sebuah solusi untuk menyelesaikan persoalan “pacaran”, akan membawa persoalan tersendiri bagi yag menjalaninya. Ambilah contoh ketika diusia muda seorang remaja/pemuda dengan segala keterbatasannya di bidang ekonomi, social, rohani, dll diharuskan menikah dengan pasangannya. Tentu saja ini akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun bagi pasangannya setelah dia menjalani kehidupan berumah tangga di usia dini. Belum lagi masalah-masalah yang lain, yang mana tentu saja akan lebih rumit dari sekedar masalah pribadi. Itulah kenapa kemudian diperlukan sebuah kematangan dan kesiapan bagi siapapun untuk kemudian memutuskan menikah di usia dini.

Bagi penulis ini merupakan suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, entah ini dikarenakan budaya yang hari ini sudah mulai ada pergeseran nilai atau dikarenakan hal yang lain, yang jelas ini merupakan masalah baru dalam kehidupan kita. Tidak sekedar Islam yang sudah memberikan solusi, tapi kita masih berharap terdapat “win solution” yang lebih bijak dari sekedar apa yang sudah terjadi di masyarakat kita ini. Mencintai dan dicintai adalah hak setiap manusia yang ada di dunia ini, cinta adalah fitrah setiap manusia, jadi solusi yang memanusiakan manusia yang nantinya diharapkan mampu menjembatani masalah ini, bahkan lebih jauh lagi bisa menyelesaikan persoalan ini.

02 Oktober 2007

Pengenalan Studi UMM

Masa transisi dari situasi dan kondisi jenjang pendidikan lama (SMA atau yang sederajat) serta keanekaragaman asal daerah, menyebabkan perbedaan sikap, sudut pandang, dan pola pikir Mahasiswa Baru (MABA) dalam kehidupan barunya (lingkungan kampus). Hal tersebut berimplikasi pada dua keadaan. Pertama, MABA akan menjadi lebih baik disebabkan keberadaan lingkungannya yang mendukung mereka untuk berkembang kearah konstruktif. Kedua, MABA akan menjadi lebih buruk disebabkan oleh ketidak sanggupannya untuk menyesuaikan dengan lingkungan dalam jangka waktu yang sesegera mungkin. Kekhawatiran terhadap kondisi yang kedua itulah kemudian yang menjadi latar belakang untuk mengadakan kegiatan ini. Dalam hal ini panitia penyelenggara beranggapan bahwa kondisi tersebut memerlukan adanya pembinaan dan arahan agar MABA lebih siap menjalani kehidupan kampus.
Pembekalan MABA merupakan suatu pra-fase pengenalan awal kehidupan kampus, dengan proses pembinaan dan pengayaan moralitas, intelektualitas, dan profesionalitas. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didesign dengan konsep seakrab mungkin, sehingga MABA merasa nyaman untuk menapaki awal kehidupannya di kampus. Sebagai langkah strategis, para panitia pelaksana dari perwakilan seluruh mahasiswa disetiap jurusan dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dibekali dengan perilaku-perilaku yang seharusnya diterapkan untuk menyambut MABA. hal ini difungsikan juga sebagai langkah preventif untuk menghindari bentuk-bentuk premanisme kampus yang sudah bertahun-tahun eksis, dan telah dibuktikan oleh satu Perguruan Tinggi.

Pengenalan Study Mahasiswa Baru (PESMABA) merupakan tahap awal MABA untuk mengenal dan memahami cara hidup di lingkungan kampus. Hal ini sangat penting mengingat kompleksnya kebutuhan dan permasalahan serta tuntutan dari berbagai pihak terhadap calon-calon sarjana. Perlu adanya kesiapan untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan yang memungkinkan akan menghambat proses studinya.

yang terpadu, sistematis dan komprehensif, sehingga terwujud suatu“Keluarga Besar” di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univeritas Muhammadiyah Malang.
Dengan Pembekalan MABA dan PESMABA ini, diharapkan dapat menghasilkan pribadi MABA yang tangguh dalam religiusitas, moralitas, dan intelektualitas yang holistic dan integrative. Harapannya dengan integrasi ketiga komponen tersebut mampu mengembangkan atmosfir akademik yang termanifestasi dalam pelaksanaan fungsi perguruan tinggi yang terangkum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).