03 Oktober 2007

Pemikiran-pemikiran insan cita

Ketika pacaran jadi trend pemuda-pemudi kita hari ini, bagaimana Islam memberikan solusinya???

Masa remaja, biasa disebut dengan masa transisi, adalah masa di mana banyak sekali dijumpai perubahan-perubahan pada diri seseorang. Mulai mengenal dirinya sendiri, mengenal lingkungannya, bahkan sampai dengan mengenal orang lain. Perubahan yang tidak didasari oleh kesadaran tinggi dan pengetahuan yang cukup bagi seseorang akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Remaja yang identik dengan “kenakalan”nya, sering kali kurang paham, bahkan mereka merasa dirinya adalah yang ter………….diantara yang lainnya. Di sinilah, di masa-masa remaja, seseorang akan mulai menghadapi berbagai persoalan hidup. Pacaran adalah salah satu persoalan yang hari ini banyak dihadapi oleh remaja-remaja kita.

Pacaran, atau lebih dikenal dengan istilah dating, bahasa gaulnya “mbojo”, merupakan fenomena yang lazim kita temui akhir-akhir ini. Mulai dari tingkatan yang terendah sampai dengan pada strata yang tertinggi, kita menemukan fenomena ini. Bayangkan, anak SDpun sudah mengenal istilah pacaran. Pacaran adalah hal yang wajar yang terjadi pada sepasang muda-mudi kita hari ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa ini adalah masa di mana mereka saling menjajaki, memahami dan saling mengerti terhadap pasangannya. Atau lebih populernya disebut sebagai masa dimana mereka saling tepo seliro sebelum mereka menjalani kehidupan yang lebih tinggi, pernikahan.

Dalam konsep Islam tidak terdapat yang namanya istilah berpacaran, yang ada adalah “ta’aruf” atau orang awam menyebutnya kenalan. Ketika Islam dihadapkan dengan fenomena remaja dan pemuda-pemudi kita hari ini, Islam memberika solusi berupa pernikahan. Dalam sisi Islam ini sangat baik sekali diterapkan, namun apabila dilihat dari sisi lain, bagaimana kemudian pernikahan menjadi sebuah solusi untuk menyelesaikan persoalan “pacaran”, akan membawa persoalan tersendiri bagi yag menjalaninya. Ambilah contoh ketika diusia muda seorang remaja/pemuda dengan segala keterbatasannya di bidang ekonomi, social, rohani, dll diharuskan menikah dengan pasangannya. Tentu saja ini akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun bagi pasangannya setelah dia menjalani kehidupan berumah tangga di usia dini. Belum lagi masalah-masalah yang lain, yang mana tentu saja akan lebih rumit dari sekedar masalah pribadi. Itulah kenapa kemudian diperlukan sebuah kematangan dan kesiapan bagi siapapun untuk kemudian memutuskan menikah di usia dini.

Bagi penulis ini merupakan suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, entah ini dikarenakan budaya yang hari ini sudah mulai ada pergeseran nilai atau dikarenakan hal yang lain, yang jelas ini merupakan masalah baru dalam kehidupan kita. Tidak sekedar Islam yang sudah memberikan solusi, tapi kita masih berharap terdapat “win solution” yang lebih bijak dari sekedar apa yang sudah terjadi di masyarakat kita ini. Mencintai dan dicintai adalah hak setiap manusia yang ada di dunia ini, cinta adalah fitrah setiap manusia, jadi solusi yang memanusiakan manusia yang nantinya diharapkan mampu menjembatani masalah ini, bahkan lebih jauh lagi bisa menyelesaikan persoalan ini.

Tidak ada komentar: