03 Oktober 2007

Hari ini kita berpikir

SADAR, TAK SADAR, ATAU SETENGAH SADAR

Apakah kalian semua mengerti dengan apa yang sudah saya berikan…………?”. Begitulah sekiranya kalimat terakhir yang sering kita dengarkan dari para guru atau dosen kita dalam memberikan materi atau perkuliahan, dan sering kali hal tersebut kita terima begitu saja tanpa kita sadari apakah hal tersebut benar atau tidak. Pokoknya, apa yang sudah diberikan oleh para guru maupun dosen kita,itu adalah sebuah kebenaran, dan hal ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah yang sesungguhnya telah diberikan oleh para guru dan dosen kita benar-benar BENAR atau justru sebaliknya. Atau fenomena lain yang terkait dengan kurikulum perkuliahan kita, sudahkah kurikulum kita memiliki kesesuaian dengan apa yang hari ini kita (baca: mahasiswa) butuhkan? Apakah kurikulum mata kuliah yang satu sudah mendukung mata kuliah yang lain? Atau fenomena-fenomena pendidikan yang lainnya yang hingga hari ini tiada ujung penyelesaiannya. Dibutuhkan analisa yang panjang dan mendalam terkait dengan hal tersebut, dan kesadaran merupakan kuncinya. Apakah hari ini kita yang sadar telah terbangun motivasinya untuk bergerak merubah fenomena tersebut atau justru sebaliknya, tau tapi pura-pura tidak tau.

Kesadaran sebenarnya berawal dari sebuah kebutuhan dan kemudian muncul sebuah kemauan dan diwujudkan melalui aktualisasi diri yang mana aktualisasi tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Segaimana diungkapkan oleh Freud, kesadaran itu bukan hanya abstraksi hipotetik tetapi kenyataan empiric. Untuk mewujudkannya lewat aktualisasi diri yang merupakan tingkat kebutuhan tertinggi dari suatu hirarki kebutuhan (Maslow). Dalam teori kesadaran lainnya, Carl Gustav Jung mengatakan bahwa dalam kepribadian manusia itu terdiri dari dua alam, alam sadar dan alam tak sadar. Dalam alam sadar ini, berfungsi untuk mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan/dunia luar. Sementara pada alam tak sadar mempunyai peranan untuk mengadakan penyesuaian terhadap dunia dalam, yaitu dunia batin. Pada dasarnya manusia memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu fikiran, perasaan, pendirian, dan intuisi. Akan tetapi, biasanya hanya satu saja yang kemudian paling berkembang atau dominant. Fungsi yang dominant itu merupakan fungsi superior, dan menentukan tipe orangnya, apakah tipe pemikir, perasa, pendriaan, atau tipe intuitif. Begitu pula dengan keberadaan kita sebagai manusia yang “sadar”, manakah kemudian dari keempat fungsi jiwa kita yang paling dominant?

Berbicara persoalan pendidikan yang sudah dikemukakan di depan tadi, tentu saja kita semua akan berpikir dan kemudian kita akan sadar kalau kemudian banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita hari ini. Seperti yang sudah disinggung di depan tadi, bahwa masih begitu banyak fenomena, salah satunya tentang “pendoktrinan” akan materi-materi (teori) pembelajaran yang kita pikir bersama belum tentu kebenarannya. Karena kalau kita telusuri, materi-materi tersebut dari tahun ke tahun tidak ada perubahan, padahal ini (materi atau teori) merupakan hasil dari pemikiran manusia yang mana dari detik ke detik mengalami perkembangan dan perubahan. Kita “dipaksa” untuk menerimanya tanpa diberi kesempatan untuk mencoba mengkritisinya. Dan hasilnya.....ya seperti kita-kita ini. Begitu pula dengan “ketidakserasian” kurikulum yang sudah disinggung di depan. Hari ini kita memang “dipaksa dan dicekoki” dengan bermacam-macam ketidakbenaran dalam pendidikan kita. Sadarkah kita kemudian dengan apa yang telah terjadi dengan pendidikan yang ada di sekitar kita hari ini?? Atau kemudian kita sadar tapi kesadaran kita hanya berakhir pada “kemauan” saja dan tidak dilanjutkan pada pengaktualisasian diri?? Percuma......kata yang sekiranya tepat kita terima apabila hari ini kita sadar tapi hanya berakhir pada kemauan tanpa bergerak sama sekali. Masih banyak hal yang kemudian harus kita pikirkan dan kemudian kita perjuangkan untuk merubahnya. Dunia pendidikan kita hari ini masih perlu pembaharuan yang mana nantinya akan membawa pendidikan kita pada tataran terbaiknya. Kita yang sudah sadar, wajib untuk tidak berpangkutangan saja, melihatnya, dan hanya menganalisanya. Paling tidak keberanian dari kita yang sadar akan merubah pendidikan kita menuju ke yang lebih baik.

Tidak ada komentar: