16 Mei 2008

UNTUK HARI KARTINI

Kartini yang didambakan……..

Ibu kita Kartini…
Putri sejati….
Putri Indonesia…
Harum namanya….

Begitulah kiranya sepenggal lirik lagu yang berjudul Ibu Kita Kartini yang tidak asing lagi bagi telinga kita semua. Dan setiap satu tahun sekali, tepatnya tanggal 21 April, kita semua memperingati Hari Kartini. Hari dimana kita semua memperingati hari kelahiran sosok pengisi sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Sosok yang kemudian dengan pemikiran-pemikirannya mampu merubah dinamika kehidupan bangsa ini menjadi lebih berwarna. Siapakah sebenarnya sosok Kartini itu dan sejauh manakah sepak terjangnya dalam sejarah kehidupan bangsa ini?
Kartini memanglah sosok wanita yang pada saat itu (pada zamannya) memang merupakan tokoh yang disegani oleh banyak kalangan. Bukan karena dia seorang anak keturunan ningrat Jawa, tetapi karena perjuangannya terhadap pembebasan kebodohan bagi kaumnya, kaum perempuan. Apa yang menjadi pokok perjuangan dari seorang Kartini bukanlah sebuah pembebasan atau sejenisnya, namun lebih dititikberatkan pada emansipasi (baca:persamaan derajat) perempuan pada waktu itu. Perempuan Jawa yang pada saat itu menduduki strata yang paling rendah, membuat Kartini merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak dan nasib kaum perempuan. Boleh dibilang pada saat itu nilai seorang perempuan tidaklah lebih dari sekedar “babu” dalam kehidupannya. Mereka tidak memiliki kebebasan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, selalu dipingit di rumah, dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan bahkan mereka harus bersedia untuk kemudian dimadu. Sungguh suatu kondisi yang semestinya tidak harus diterima oleh perempuan-perempuan pada saat itu. Demikianlah Kartini mencoba untuk menggambarkan penderitaan yang dialami oleh kaumnya.
Pemikiran Kartini memang banyak memberikan sumbangih bagi kehidupan bangsa ini. Diawali dengan keprihatinannya terhadap kondisi sosial pada saat itu, terutama kondisi perempuan, Kartini memang sangat bersemangat sekali untuk membebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari belenggu kebodohan dan mengajak kaum perempuan untuk lebih maju sehingga bisa disejajarkan dengan kaum pria. Apa yang telah menjadi pemikiran Kartini ini memang banyak dipengaruhi oleh pemikiran orang-orang Eropa. Hal tersebut sangatlah wajar sekali karena Kartini memang memiliki banyak kawan yang berasal dari Eropa. Kemajuan dan modernisasi perempuan-perempuan Eropa inilah yang kemudian dicoba oleh Kartini untuk ditiru dan diperjuangkan bagi kaum perempuan pribumi. Sebuah perjuangan yang tentunya tidaklah mudah bagi sosok Kartini yang hanya mengandalkan pemikiran saja, namun hal ini tidaklah memupuskan semangatnya untuk terus berjuang bagi kaumnya hingga akhir hayatnya.
Memang benar kalau Kartini tidak pernah melihat dan merasakan perubahan dari kaumnya, kaum perempuan, yang sudah jauh dari apa yang pernah dia lihat pada masanya. Perjuangannya merupakan sebuah awalan bagi perempuan-perempuan Indonesia hari ini dan hingga nanti. Apa yang kemudian menjadi pemikiran Kartini, bahwasanya perempuan memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan patut untuk terus diperjuangkan. Bahkan emansipasipun hari ini sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi perempuan-perempuan Indonesia. Namun apakah kemudian berhenti di situ saja? Apakah ini sudah cukup bagi perempuan-perempuan hari ini? Atau justru kemudian ini dijadikan sebagai senjata ampuh bagi perempuan untuk beraktualisasi sesuai dengan keinginannya sendiri?
Tantangan dalam dunia modern ini tidak bisa dilepaskan dari peran kaum perempuan. Perempuan modern yang merupakan lokomotor penggerak kehidupan bangsa perlu kiranya memiliki peran yang lebih dari sekedar pengisi kehidupan. Agamapun sudah mengajarkan kepada kita bahwasanya kokoh tidaknya suatu bangsa atau negara tergantung kepada wanita-wanita yang ada di dalamnya. Artinya bahwa pribadi-pibadi perempuan inilah yang kemudian akan berperan dalam membawa kemajuan suatu bangsa. Kesadaran diri akan peranan dan fungsinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah diperlukan bagi kaum perempuan yang memproklamirkan dirinya sebagai wanita modern. Sekali lagi perempuan bukan sekedar pengisi kehidupan saja, bukan kembang desa, bukan yang siap dimadu, dan bukan pula sekedar babu. Selamat hari Kartini 21 April 2008.

Tidak ada komentar: