23 Mei 2008

TERKAIT PEMBELAJARAN

KITA PERLU TAHU TIPE, GAYA, DAN STRATEGI BELAJAR SISWA

Secara sederhana pendidikan dapat diartikan sebagai aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yang berupa potensi rohani ( pikiran, cipta, karsa, rasa, dan budi nurani) dan potensi jasmaninya (panca indera dan keterampilan-keterampilan). Dalam dunia pendidikan kita mengenal berbagai macam komponen yang baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat di dalamnya. Katakanlah komponen yang terlibat langsung dalam pendidikan tersebut adalah siswa. Siapakah sebenarnya siswa itu? Dikatakan bahwa seorang siswa itu merupakan subjek sekaligus objek dalam pendidikan, yang secara sadar berusaha mendapatkan pengetahuan baru dimana hal tersebut menyebabkan perubahan permanen dalam keilmuannya, tingkah lakunya, maupun keahliannya. Kenapa dia dikatakan sebagai subjek pendidikan? Hal tersebut dikarenakan seorang siswa secara sadar mencari sebuah kebenaran akan pengetahuan baru, sementara itu dia dikatakan sebagai objek tatkala dia membutuhkan bimbingan, fasilitas, dan instruksi dari orang lain (baca: guru) dalam rangka mendapatkan apa yang dia cari.

Dalam rangka pencariannya (pembelajarannya) tersebut, seorang siswa memiliki berbagai macam gaya atau yang lebih populernya dinamakan style. Apa yang dimaksudkan dengan gaya belajar di sini? Gaya belajar di sini merupakan kecenderungan siswa dalam memahami sebuah pengetahuan baru. Jadi gaya belajar ini merupakan sebuah pendekatan siswa dalam rangka memahami suatu hal yang baru, dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan. Gaya belajar pada siswa itu bermacam-macam. Beberapa diantaranya ada yang bernama visual, auditory, audiovisual, kinetestik, berkelompok, maupun secara individu. Tentu saja gaya belajar yang ada pada siswa ini sangat dipengaruhi oleh tipe-tipe pembelajar tersebut. Sebagai mana diketahui bahwa tipe pembelajar itu secara garis besar dibedakan menjadi dua. Mereka ada yang introvert dan ada yang ekstrovert.

Secara garis besar menunjukan bahwa seorang siswa yang merupakan pembelajar bertipe ekstrovert cenderung untuk lebih aktif di dalam belajarnya. Beberapa ciri dari mereka yang termasuk pembelajar tipe ekstrovert adalah keingintahuannya yang sangat besar akan pengetahuan. Di dalam kelaspun mereka sangat menonjol sekali dalam aktivitasnya. Kaktakanlah mereka sering bertanya kepada gurunya. Tipe pembelajar ini bisa dikatakan lebih mandiri dalam pembelajarannya. Sebaliknya bagi mereka yang bertipe introvert, kecenderungan untuk menjadi sosok yang pasif sebagai siswa sangatlah tampak pada mereka. Mereka yang bertipe seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai siswa yang tidak pintar, namun hal ini memang disebabkan karena mereka lebih menyukai hal-hal yang dianggapnya save, atau aman. Sehingga tampak jelas, apabila dalam aktifitas kelas, mereka sangatlah berbeda dengan pembelajar yang bertipe ekstrovert.

Karena perbedaan tipe inilah yang mempengaruhi perbedaan strategi atau cara siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Ada berbagai macam strategi pembelajaran yang dilakukan siswa, diantaranya adalah memory (hafalan), kognitif, kompensasi (gabungan), metakognitif, afektif, dan bersosial. Apa kemudian yang dimaksud dengan strategi memori (hafalan) itu? Strategi ini lebih menekankan bagaimana seorang siswa mendayagunakan kemampuan ingatannya untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu pengetahuan. Pembelajar yang seperti ini biasanya cenderung untuk membuat catatan-catatan yang berupa gambar-gambar bahkan memungkinkan merekam suara-suara untuk membantu mempermudah mengingat apa yang didapatnya. Kemudian mereka menghafalkannya dengan disertai tindakan-tindakan yang nyata. Sementara itu bagi pembelajar yang memiliki strategi berupa kognitif, mereka cenderung untuk lebih melakukan praktek-praktek dan melakukan pengulangan materi, menganalisanya, hingga pada akhirnya mereka mampu untuk menyimpulkannya sendiri. Kemudian untuk pembelajar yang mempunyai strategi pembelajaran berupa kompensasi (penggabungan), lebih menekankan pada aspek intelektual bahasanya. Sehingga siswa ini mampu menggunakan intelegensinya untuk membuat kode-kode yang memudahkannya dalam belajar. Mereka lebih kreatif, sehingga mereka mampu untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari baik secara lisan maupun tulisan. Sedangkan untuk mereka yang mempunyai strategi metakognitif, mereka lebih mengedepankan diri mereka sebagai pusat dari belajarnya. Mereka mampu merencanakan dan mengevaluasi apa yang akan dan telah mereka pelajari. Sehingga pada akhirnya, pembelajar ini dikategorikan sebagai pembelajar yang mandiri. Sementara itu bagi siswa yang memiliki strategi belajar berupa afektif, mereka cenderung untuk bersikap santai dan relaks, sehingga kecemasan dala belajarnya dapat teratasi. Mereka ini mampu untuk mengatur emosi dan tidak akan cepat stress apabila menghadapi persoalan-persoalan dalam belajarnya. Sedangkan yang terakhir adalah mereka yang mempunyai strategi sosial dalam belajarnya. Yang namanya sosial, mereka lebih suka bekerja sama dengan orang lain dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru. Mereka sering bertanya serta mampu untuk berempati terhadap keberadaan orang lain.

Kenapa mengetahui tipe, gaya, dan strategi siswa itu sangatlah penting bagi para pendidik? Hal ini tidak lain dikarenakan akan mempengaruhi proses berikutnya, khususnya bagi guru, dalam memberikan materi ajar kepada siswanya. Sehingga dengan mengetahui itu semua, diharapkan seorang tenaga pendidik, guru, mampu untuk memilih pendekatan-pendekatan pengajaran dan mampu memilih strategi dan teknik yang tepat untuk mengajar siswa-siswanya. Sehingga pada akhirnya apa yang menjadi tujuan pembelajarannya bisa tercapai secara maksimal. Seorang guru perlu mengetahui hal-hal tersebut di atas, kenapa? Hal ini disebabkan karena guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan baik secara perorangan maupun institusi.

Tidak ada komentar: